Sabtu, 23 Maret 2013

JENIS JENIS HIPOTESIS

2.1  MERUMUSKAN HIPOTESIS
2.1.1        Pengertian
Setelah peneliti menentukan anggapan dasar, maka langkah selanjutnya adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
           Dari arti katanya, hipotesis memang berasal dari 2 penggalan kata, “hypo” yang artinya “dibawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran”. Jadi hipotesis yang kemudian cara menuliskannya disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.
           Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu diuji (di bawah kebenaran). Inilah hipotesis peneliti harus berpikir bahwa hipotesisnya itu dapat diuji. Selanjutnya peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis ini. Peneliti mengumpulkaan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipoetsis yang dirumuskan dapat naik status menjadi tesa, atau sebaliknya, tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.
           Hal yang sangat perlu diperhatikan oleh peneliti adalah bahwa ia tidak boleh mempunyai keinginan kuat agar hipotesisnya terbukti dengan cara mengumpulkan data yang hanya bisa membantu memenuhi keinginannya, atau memanipulasi data sedemikian rupa sehingga mengarah keterbuktian hipotesis. Penelitian harus bersikap objektif terhadap data yang terkumpul.
           Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan peneliti dapat bersikap 2 hal:
1.      Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian).
2.      Mengganti hipotesis seandainya tanda-tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).
Apabila peneliti mangambil hal kedua, maka di dalam laporan penelitian harus dituliskan proses penggantian ini. Dengan demikian, peneliti telah bertindak jujur dan tegas, sesuatu yang memang sangat diharapkan dari seorang peneliti.
            Bagaimana mengetahui kedudukan suatu hipotesis?
1.      Perlu diuji apakah ada data yang menunjuk hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat?
2.      Adanya data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada, memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
3.      Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.
Apabila ketiga hal tersebut dapat dibuktikan, maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian. Walaupun hipotesis ini sangat penting sebagai pedoman kerja dalam penelitian, namun tidak selalu semua penelitian harus berorientasikan hipotesis. Jenis penelitian eksploratif, survei, atau kasus, dan penelitian development biasanya justru tidak berhipotesis. Tujuan penelitian jenis ini bukan untuk menguji hipotesis tetapi mempelajari gejala-gejala sebanyak-banyaknya.
Sehubungan dengan hal ini G.E.R. Brurrough mengatakan bahwa penelitian   berhipotesis (penelitian hipotesis) penting dilakukan bagi :
1.      Penelitian menghitung banyaknya sesuatu (magnitude)
2.      Penelitian tentang perbedaan (differencies)
3.      Penelitian hubungan (relationship)
Ahli lain yaitu Deobold Van Dalen mengutarakan adanya 3 bentuk inter relationship studies yang termasuk penelitian hipotesis yaitu :
a.       Case studies (studi kasus)
Studi kasus merupakan suatu konstruksi tersendiri sebagai suatu produk interaksi antara responden, lapangan penelitian, dan para peneliti itu sendiri.
b.      Causal comparative studies
c.       Correlations studies

2.2.2        Jenis – jenis hipotesis
Pada umumnya hipotesis dirumuskan untuk menggambarkan hubungan dua vriabel akibat. Namun demikian, ada hipotesis yang menggambarkan perbandingan satu variabel dari dua sampel, misalnya membandingkan perasaan takut antara penduduk tepi pantai dan penduduk pegunungan terhadap gelombang laut.
Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Oleh karena itu peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini dengan jelas. Seorang ahli bernama Borg yang dibantu oleh temannya Gall mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai berikut:
1.      Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas
2.      Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
3.      Hipotesis harus didukung oleh teori – teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian:
1.      Hipotesis kerja atau hipotesis alternatif (Ha)
Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y ,atau adanya perbedaan dua kelompok.
Rumusan  hipotesis kerja:
a.       Jika.........maka.......
Contoh: Jika orang banyak makan , maka berat badannya akan naik.
b.      Ada perbedaan antara .... dan .....
Contoh: Ada perbedaan antara penduduk kota dan penduduk desa dalam cara berpakaian.
c.       Ada pengaruh ...... terhadap......
Contoh: Ada pengruh makanan terhadap berat badan.
2.      Hipotesis nol (Ho)
Hipotesis nol menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel atau tidak ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y.
Rumusan hipotesis nol:
a.       Tidak ada perbedaan antara ..... dengan .....
Contoh: Tidak ada perbedaan antara mahasiswa tingkat I dan mahasiswa tingkat II dalam disiplin kuliah.
b.      Tidak ada pengaruh ..... terhadap ......
c.       Contoh: Tidak ada pengaruh jarak dari rumah ke sekolah terhadap kerajinan mengikuti kuliah.
Dalam pembuktian, hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi Ho, agar peneliti tidak mempunyai prasangka.

2.2.3        Kekeliruan yang terjadi dalam Pengujian Hipotesis
Benar dan tidaknya hipotesis tidak ada hubungannya dengan terbukti dan tidaknya hipotesis tersebut. Mungkin seorang peneliti merumuskan hipotesis yang isinya benar, tetapi setelah data terkumpul dan dianalisis ternyata hipotesis tersebut ditolak atau tidak terbukti. Atau seorang peneliti merumuskan hipotesis yang isinya salah tetapi setelah dicocokkan dengan datanya, hipotesis tersebut terbukti. Keadaan ini akan berbahaya, jika mengenai hipotesis tentang suatu yang berbahaya.
Contoh: Belajar tidak mempengaruhi prestasi. Dari data yang terkumpul, ternyata  anak-anak yang tidak belajar dapat lulus. Maka ditarik kesimpulan bahwa hipotesis terbukti.
Dari contoh tersebut, kesimpulan yang diambil salah menurut norma umum. Pembuktian hipotesis benar. Akibatnya berbahaya jika disimpulkan oleh siswa atau mahasiswa bahwa tidak ada gunanya belajar. Kesalahannya adalah perumusan hipotesis. Atau mungkin perumusan hipotesis benar tetapi ada kesalahan dalam penarikan kesimpulan, jika hal tersebut yang terjadi maka tidak boleh menyalahkan hipotesisnya.
Kesalahan penarikan kesimpulan mungkin disebabkan kesalahan sampel, kesalahan perhitungan ada pada variabel lain yang mengubah hubungan antara variabel belajar dan variabel prestasi yang pada saat pengujian hipotesis ikut berperan.
Contoh: Faktor untung – untungan, faktor soal tes yang sudah bocor, faktor menyontek dan sebagainya. Untuk memperjelas keterangan, berikut ini disamapaikan matriks macam kekeliruan ketika membuat kesimpulan tentang hipotesis pada umumnya.

Matriks macam Kekeliruan Ketika Membuat Kesimpulan tentang Hipotesis
Kesimpulan dan keputusan
Keadaan sebenarnya
Hipotesis benar
Hipotesis salah
Terima hipotesis
Tidak membuat kekeliruan
Kekeliruan macam II
Tolak hipotesis
Kekeliruan macam I
Tidak membuat kekeliruan

Sehubungan dengan perumusan hipotesis maka ada 2 kekeliruan yang kita buat, yaitu:
  1. Menolak hipotesis yang seharusnya diterima, disebut kekeliruan alpha.
  2. Menerima hipotesis yang seharusnya ditolak, disebut kekeliruan beta.

2.2.4        Cara Menguji Hipotesis
Peneliti telah mengumpulkan dan mengolah data, pengujian hipotesis tentu akan sampai pada kesimpulan menerima atau menolak hipotesis.
Dalam menentukan penerimaan dan penolakan hipotesis maka Ha diubah menjadi Ho. Sebuah populasi berdistribusi normal yang digambarkan dengan grafik dibawah ini.


                                           Daerah penerimaan
Daerah kritik                                 Ho 95%                            Daerah kritik
2,5%                                                                                         2,5 %

Dengan asumsi bahwa populasi tergambar dalam kurva normal maka jika kita menentukan taraf kepercayaan 95% dengan pengetesan dua ekor, maka akan terdapat dua daerah kritik, yaitu di ekor kanan dan di ekor kiri kurva, masing-masing 2,5 %. Daerak kritik merupakan daerah penolakan hipotesis disebut daerah signifikasi. Sebaliknya daerah yang terletak di antara dua daerah kritis, diarsir, dinamakan daerah penerimaan hipotesis, atau daerah non-signifikasi.

2 komentar: